Senin, 29 Juni 2015

Hasil Tes Kemampuan Dasar dan Pemetaan


Berdasarkan hasil seleksi tanggal 28 Juni 2015 maka nama-nama dibawah ini dinyatakan 
lulus seleksi.

Daftar  ulang mulai tanggal  30 Juni sampai 4 juli 2015








No Nama peserta No Peserta Alamat

1 Adinda Wilda Rizkiyah 036 Tambak Bolak

2 Alfina Rahmah 043 Kepuh Kiriman

3 Athiyah Zakiyah 038 Tambak Rejo

4 Ayu Fitria Dewi 003 Simo Pomahan

5 Dewi Aprilia 034 Janti

6 Dewi Saudah 010 Gunung Anyar

7 Dina Auliyah 030 Sawohan

8 Elly Fatihah S 025 Ngingas

9 Faridatus Zakiyya 027 Sawohan

10 Fatimatuz Zahroh 005 Kundi Kepuh Kiriman

11 Fatin Najiah 028 Bagong Ginayan

12 Fifi Yentina 006 Sawohan

13 Fitri Aprilia 018 Tambak dalam

14 Fitria  009 Jl.Kali Bokor

15 Hafsah Nur Habibah 035 Jl.Wadung Asri

16 Indah Zakiyatun M 021 Wedoro Belahan

17 Inna Anzalna Ubudiyah 012 Tambak Sawah

18 Iva Nurdianah 037 Pranti

19 Kharisma 014 Bendul Merisih

20 Luluk Qomariyah 042 Bagong Ginayan

21 Lutfia Shinta Dewi 022 Brebek Waru

22 Maghfiroh warohmah 031 Upa Jiwa

23 Mutiatus Sholeha 029 Upa Jiwa

24 Nabila Nailovar 007 Wadung Asri

25 Nabilah 024 Ngingas selatan

26 Nadhirotul Munawaroh 041 Wadung Asri

27 Najubah Humayroh 023 Margorejo

28 Nanda Nabilah 002 Wedoro Candi

29 Nikin Diah Safitri 020 Sawohan

30 Ni'matul Rohmah A 016 Sawohan

31 Nola Windari 017 Sudimoro

32 Normala Rista Wike W 004 Mojokerto

33 Nur Afifatul Hidayah 015 Kendang Sari

34 Nur Fadilah 040 Tambak rejo

35 Putri Ayu Mareta 019 Tambak dalam 

36 Putri Nihayatul Amaliyah 033 Letjen Suprapto

37 Putri Sinta 026 Lamongan

38 Serlina Maulita 011 Kepuh Kiriman

39 Sinta Nur Halizah 001 Mojokerto

40 Ulil Istianah 008 Wadung Asri

41 Wardah Nur laiyinah 039 Berbek Waru

42 Zuhrotul Luthfiah 032 Gunung Anyar










Sidoarjo,30 Juni 2015




Kepala Madrasah










TTD


Latiful Asir, M.Pd.I








Minggu, 21 Juni 2015

PERSIAPAN TOUR



Shalat Tarawih



SHALAT TARAWIH
صلاة التراويح
A.    MUQODIMAH
Rasulullah saw menganjurkan kepada kita untuk menghidupkan malam Ramadhan dengan memperbanyak sholat. Bulan Ramadlan merupakan bulan yang diagungkan, bulan yang penuh barakah, rahmah dan maghfirah. Oleh karena itu Rasulullah SAW menganjurkan untuk memperbanyak amal shalih, termasuk di antaranya adalah qiyamu Ramadlan, berdasarkan hadits:
عن أبي هريرة قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يُرَغِّبُ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أنْ يَأمُرَهُمْ فِيْهِ بَعَزِيْمَةٍ فَيَقوْلُ : مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (متفق عليه)                                                                                                
Artinya : ” Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW menganjurkan untuk qiyamu Ramadlan dengan tanpa memerintahkannya dengan penekanan (tidak mewajibkannya) seraya bersabda : Barang siapa beribadah pada bulan Ramadlan (melakukan qiyamu Ramadlan dengan (dilandasi) iman dan penuh    keikhlasan makaakan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu ”[1]                                                
Dan fakta sejarah memberi bukti, sejak zaman Rasulullah saw. hingga kini, umat Islam mengamalkan anjuran Rasulullah ini. Tapi dalam pelaksanaannya terdapat perbedaan dibeberapa hal yang kadang mengganggu ikatan ukhuwah di kalangan umat Islam. Seharusnya hal tersebut tidak perlu  terjadi jika umat tahu sejarah disyariatkannya shalat tarawih.
Tidak ada perbedan pendapat atau perselisihan dikalangan kaum muslimin mengenai kedudukan salat tarawih sebagai ibadah sunnah. Yang menjadi permasalahan, dan titik perselisihan pendapat adalah: apakah salat tarawih itu dilaksanakan dengan 20 rakaat selain shalat witir, atau 8 rakaat selain witir. Perbedaaan mengenai jumlah rakaat shalat tarawih itu sebenarnya wajar, karena adanya beberapa riwayat shahih mengenai hal tersebut yang berlainan. Namun kenyataan dimasyarakat menunjukkan hingga sekarang – terutama tiap bulan Ramadhan – masih terdengarnya suara-suara sumbang yang membid’akan dan menyesat - nyesatkan kaum muslimin yang melaksanakan shalat tarawih dengan jumlah rakaat lebih dari delapan rakaat.
Dari kenyataan tersebut penulis ingin menelusuri pendapat – pendapat para ulama’ dan dalil-dalil yang mendasarinya. Dalam makalah yang sedehana ini penulis akan membahas kenapa dinamakan shalat taraweh, hukum shalat tarawih, jumlah rakaatnya, dan tata cara pelaksanaannya.
B.     PEMBAHASAN
1.      Mengapa dinamakan shalat taraweh ?
التراويح jama’  ترويحة  berasal dari akar kata راحة  : رواح = ترويحة للنفس   : إستراحة artinya istirahat. Shalat malam pada bulan Ramadhan dinamakan dengan التراويح karena ketika melaksanakan shalat ini para jamaah dan imamnya beristirahat setelah melaksanakan dua kali salam atau empat rakaat.
Disebut dengan nama “shalat tarawih”  karena shalat itu memakan waktu lama dan terdiri dari beberapa rakaat. Yang pada umumnya setelah orang menyelesaikan empat rakaat mereka beristirahat sejenak, kemudian melanjutkan dengan empat rakaat berikutnya. Sebab itulah orang menyebutnya dengan nama “ shalat tarawih”  yang berarti shalat dengan beberapa kali istirahat. Menurut imam al-Nawawi  yang dimaksud shalat tarawih adalah “qiyamu Romadhon”[2] dan menurut Imam Malik istilah itu baru muncul dizaman pemerintahan Umar bin al-Khattab (428H/581M – 23 H/644 M)[3]



2.      Hukum Shalat Tarawih dan Fadhilahnya
      Pada masa Rasulullah istilah shalat tarawih belum dikenal, qiyamul lail atau qiyam al-Ramadhan adalah istilah yang dipakai pada masa itu. Semula qiyamu al-Ramadhan dilaksanakan Rasulullah di masjid, ketika jamaah melihat Rasulullah melaksanakan shalat, merekapun kemudian mengikutinya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Aisyah rda:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ قَالَ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ
Artinya : …..“ Dari ‘Aisyah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW shalat di masjid pada suatu malam, lalu orang-orang shalat bersama beliau. Kemudian pada malam berikutnya, beliau shalat dan bertambah banyak orang (yang mengikuti beliau). Pada malam ketiga atau keempat, orang-orang berkumpul (menunggu beliau), namun Rasulullah SAW tidak keluar (ke masjid). Ketika pagi-pagi beliau bersabda : sungguh aku melihat apa yang kalian lakukan (tadi malam). Tidak ada yang mencegah saya keluar kecuali saya hawatir kalau shalat itu difardlukan pada kalian. ’Aisyah berkata bahwa       itu terjadi pada bulan ramadhan” [4]

Rasulullah juga menganjurkan untuk mendirikan qiyamul lail sebagai mana hadits riwayat imam muslim dari Abu Hurairah:  
عن أبي هريرة قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يُرَغِّبُ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أنْ يَأمُرَهُمْ فِيْهِ بَعَزِيْمَةٍ فَيَقوْلُ : مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (متفق عليه)                                                                                                
Artinya : ” Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW menganjurkan untuk qiyamu Ramadlan dengan tanpa memerintahkannya dengan penekanan (tidak mewajibkannya) seraya bersabda : Barang siapa beribadah pada bulan Ramadlan (melakukan qiyamu Ramadlan dengan (dilandasi) iman dan penuh  keikhlasan maka akan diampuni dosa daosanya yang telah lalu.”[5]                                                                              
Dari dua riwayat hadits shahih diatas dapat diketahui bahwa qiyamu ramadhan adalah sunnah, karna nabi telah menganjurkan dan melaksanakannya. bahkan dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan imam Malik dalam muwatho’nya dan imam Muslim dalam shahihnya ada tambahan :
فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ ثُمَّ كَانَ الْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ فِي خِلَافَةِ أَبِي بَكْرٍ وَصَدْرًا مِنْ خِلَافَةِ عُمَرَ عَلَى ذَلِكَ.
” Kemudian Rasulullah SAW wafat, dan keadaan tetap seperti itu sampai masa khalifah Abu Bakar dan khalifah Umar”.

Kemudian pada masa khalifah Umar shalat taraweh dilaksanakan dengan berjamaah pada satu imam atas inisiatif kahalih Umar. Sebagai mana hadits yang diriwayatkan imam Bukhari dari Abu Hurairah :
وَعَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ
Artinya :
Dari Ibn Syihab dari Urwah bin Zubair dari Abdurrahman bin Abd al-Qari sesungguhnya dia berkata: saya keluar bersama khalifahUmar bin al-Khattab ra  pada suatu malam bulan Ramadhan ke masjid (Madinah) didapati didalam masjid orang–orang terpencar–pencar, ada orang yang shalat sendiri-sendiri, dan ada yang mengimami sekelompok jamaah. Maka khalifah Umar berkata: aku berpendapat, kalau mereka itu dikumpulkan dalam satu jamaah dan diimami oleh seorang imam, maka Umar mengumpulkan mereka dalam satu jamaah yang diimami Ubaiy bin Ka’ab. Kemudian saya keluar lagi bersama khalifah Umar pada malam berikutnya, kami melihat manusia shalat diimami seorang imam.saat itu khalifah Umar berkata: inilah sebaik baik bid’ah. Orang yang tidur lebih dahulu itu lebih baik dari orang – orang yang shalat saat ini.[6]
Menurut para fuqaha qiyam al-Ramahdan atau qiyam al-Lail bagi Rasulullah hukumnya wajib, akan tetapi menurut jumhur ulama fiqih salat tarawih bagi umat islam hukumnya sunnah mu’akkad (sunnah yang dianjurkan)[7]. Imam Abu Hanifah ketika ditanya tentang apa yang dilakukan khalifah Umar dia menjawab “Taraweh itu sunnah yang dikokohkan”[8] Imam Nawawi dalam sarah Muslim menjelaskan bahwa hadits Nabi من قام رمضان  itu adalah sighot yang menghendaki الترغيب والندب (yang disukai dan dianjurkan) bukan wajib. Dan umat islam sepakat bahwa sesungguhnya qiyam al-Romadhon itu bukan wajib tetapi sunnah.[9] Ibnu Quddamah dalam al-Mughny, shalat tarawih adalah sunnah muakkad dan orang yang mensunnahkan pertama adalah Rasulullah Saw sebagai mana hadits Abu Hurairah di atas. Al-Thahawy sebagai mana dinukil ibn Hajar al-Asqalany dalam syarah bukhari mengatakan: sesungguhnya shalat tarawih dengan berjamaah adalah fardhu kifaya. Dan berkata Ibn Bathal, qiyamu Ramadhan adalah sunnah karena Umar tentunya mencontoh perbuatan Nabi Saw.[10]
3.      Jumlah Rakaat Shalat Taraweh
Ada perbedaan pendapat tentang jumlah rakaat shalat taraweh, jumhur ulama sepakat bahwa shalat taraweh dilaksanakan dengan 20 rakaat, sedang sebagian ulama berpendapat bahwa shalat tareweh dilaksanakan 8 rakaat, bahkan ada yang mengatakan 36 rakaat. Perbedaan tersebut dilatar belakangi oleh adanya perbedaan dalil ( Hadits) yang mereka jadikan hujjah masing-masing.
Pendapat Pertama
Imam madhab sepakat bahwa shalat taraweh itu dilaksanakan dengan 20 rakaat. Hal  itu didasarkan pada dalil-dalil riwayat shahih sebagai berikut:

a.       Hadits riwayat imam Malik
حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ أَنَّهُ قَالَ كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً
“ Dari Malik dari Yazid bin Ruman, ia berkata: adalah manusia mendirikan shalat pada masa khalifah Umar sebanyak 23 rakaat.[11]

b.      Hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah dari Hasan Abdul Aziz bin Rafi’
حدثنا حميد بن عبد الرحمن عن حسن عبد العزيز بن رفيع قال كان أبي بن كعب يصلي بالناس في رمضان بالمدينة عشرين ركعة ويوتر بثلاث.
 Bercerita kepada kami Hamid bin Abd al-Rahman dari Hasan Abd Al-Aziz bin Rafi’, ia berkata: Ubaiy bin Ka’ab shalat bersama manusia dalam bulan Ramadhan di Madinah 20 Rakaat dan witir 3 rakaat.[12]

c.       Hadits dari ibn Abbas yang diriwayatkan Ibn Abi Syaibah dan imam Baihaqi
حدثنا يزيد بن هارون قال انا ابراهيم بن عثمان عن الحكم عن مقسم عن ابن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يصلي في رمضان عشرين ركعة والوتر.
Dari Ibnu Abbas sesungguhnya Rasulullah Saw shalat dalam bulan Ramadhan 20 rakaat dan witir.[13]
ثنا أبو احمد بن عدى الحافظ ثنا عبد الله بن محمد بن عبد العزيز ثنا منصور بن ابى مزاحم ثنا ابو شيبة عن الحكم عن مقسم عن ابن عباس قال كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلى في شهر رمضان في غير جماعة بعشرين ركعة والوتر

Dari Ibnu Abbas sesungguhnya Rasulullah Saw shalat dalam bulan Ramadhan tanpa berjamaah 20 rakaat dan witir.[14]

Ibn Quddamah mengatakan Imam Ahmad bin Hambal lebih suka memilih shalat taraweh 20 rakaat. Demikian juga Sufyan Al-Tsauriy, Imam Abu Hanifah, dan Imam Syafi’i. lebih lanjut beliyau berkata: kami lebih membenarkan riwayat yang mengatakan bahwa khalifah umar memerintahkan Ubaiy bin Ka’ab supaya mengimami shalat taraweh 20 rakaat.[15]
Nampak dalam keterangan keterangan di atas bahwa sahabat – sahabat Nabi banyak yang mendirikan shalat taraweh pada masa Umar sebanyak 20 rakaat. Nabi juga berpesan kepada umatnya agara mengikuti sunnah – sunnahnya dan sunnah khalifah-khalifah al-Rasyidin yang diberi hidayah. Sebagai mana sabdanya:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ.
Maka wajib atasmu mengikuti sunnahku dan sunnah al-khulafai al-rasyidin yang memperoleh petunjuk. Gigitlah oleh kalian sunnah tersebut dengan gigi graham.[16]

Disamping dalil-dalil diatas pelaksanaan shalat tarawih dengan 20 rakaat juga diperkuat dengan riwayat bil fi’li yang dilakukan oleh para sahabat, tabiin, dan tabiit tabiin sampai zaman kita sekarang ini. Dan itu tidak ada penentangan dari shahabat, yang pada masa Umar bin Khatab para sahabat masih banyak. Sedangkan sayidah Aisyah yang meriwayatkan hadits bahwa Nabi melakukan qiyam al-lail baik didalam bulan Ramadhan ataupaun tidak sama saja yaitu 8 rakaat. Juga tidak mengadakan penolakan atau memberikan komentar.
Pendapat Kedua
Pendapat yang mengatakan bahwa shalat taraweh itu dilaksanakan dengan 8 rakaat. Pendapat ini berdarkan hadits:
a.       Hadits riwayat Aisyah:
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَاكَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ
حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي
Artinya : “Dari Abi Salamah bin Abdur Rahman, bahwasanya ia bertanya kepada Aisyah: Bagaimana Shalat Rasulullah SAW di bulan Ramadlan ? Aisyah menjawab: Rasulullah SAW tidak menambah dari sebelas rakaat baik di bulan Ramadlan maupun di bulan lainnya. Beliau shalat empat rakaat, maka jangan tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat lagi empat rakaat juga jangan tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat. Aisyah berkata: saya bertanya, apakah engkau tidur sebelum witir ? Rasulullah bersabda : ya Aisyah sesungguhnya kedua mata saya tidur tetapi hati saya tidak tidur.[17]

b.      Hadits riwayat Jabir bin Abdullah
عن جابر بن عبد الله ، قال : صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في شهر رمضان ثمان ركعات وأوتر.
Dari Jabir bin Abdullah ia berkata: kami shalat bersama Nabi didalam bulan Ramadhan delapan rakaat dan witir …[18]

c.       Hadits riwayat al-Saib bin Yazid
عن السائب بن يزيد انه قال امر عمر بن الخطاب رضى الله عنه ابى بن كعب وتميم الدارى ان يقوما للناس باحدي عشرة ركعة وكان القارى يقرأ بالمئين
Dari al-Saib bin Yazid sesungguhnya ia berkata: Umar bin al-Khathob ra menyuruh Ubaiy bin Kaab dan Tamim al-Dariy supaya keduanya mengimami untuk manusia dengan 11 rakaat..[19]

Al-Hafid Jalaluddin al-Suyuti didalam risalahnya Al-Mashabiha fi Shalah al-Tarawihi menukil : “ berkata al-Jauzi min Malik sesungguhnya imam malik berkata: saya lebih suka dengan  apa yang dilakukan Umar untuk berjamaah dengan sebelas rakaat karna itu adalah shalat Rasulullah. Al-jauzi mengatakan pendapat yang rajih, muhtar, serta lebih kuat dari segi dalil adalah pendapat yang dipilih imam Malik untuk dirinya sendiri yaitu 11 rakaat, itu adalah ketepan dari Rasulullah melalui sanad yang sahih. Adapaun pendapat yang lain tidak dijumpai sanad shahih yang tanpa adanya komentar dan menjelaskan bahwa itu dari Rasulullah dan tidak seorang dari khulafaur rasyidin yang memerintahkan. Kami katakan bahwa 11 rakaat adalah ketetapan dari Rasulullah sebagaimana hadits riwayat Bukhari, Muslim, dan lainnya dari hadits Abi Salma bin Abd al-Rahman yang menanyakan kepada Aisyah bagaimana shalat Nabi.[20]

Pendapat ketiga

Berbagai pendapat tentang jumlah rakaat shalat taraweh yang lebih dari 20 rakaat.
عَنْ مُحَمَّدِ اِبْنِ سِيرِينَ أَنَّ مُعَاذًا أَبَا حَلِيمَةَ الْقَارِي كَانَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ فِي رَمَضَانَ إِحْدَى وَأَرْبَعِينَ رَكْعَةً
a.       Dari Muhammad bin Sirin, sesungguhnya Muad aba Halimah al-Qori shalat bersama manusia didalam bulan romadhon 41 Rakaat

سَمِعْت عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يُحَدِّثُ عَنْ نَافِعٍ قَالَ : لَمْ أُدْرِكْ النَّاسَ إِلَّا وَهُمْ يُصَلُّونَ تِسْعًا وَثَلَاثِينَ رَكْعَةً وَيُوتِرُونَ مِنْهَا بِثَلَاثٍ
Saya mendengar Abdullah bin Umar menceritakan dari Nafi’, ia berkata saya tidak mendapati manusia kecuali mereka shalat 39 rakaat dan berwitir darinya 3 rakaat.

Dari berbagai khabar tentang jumlah rakaat shalat taraweh diatas, menunjukkan tentang tidak adanya ketentuan pasti dari Rasulullah berapa jumlah rakaat sahalat taraweh tersebut. Maka imam Malik dan imam Syafi’i mengatakan bahwa perbedaan pendapat ini tidak bermanfaat, karena dalam persolan yang sunnah ajaran Islam memberikan jalan yang lapang. Hal ini dapat dilahat dari perbedaan pelaksanaan taraweh antara penduduk Makkah yang 20 rakaat dan penduduk Madinah yang melaksanakan dengan 36 rakaat. Hal ini sebagai mana dijelaskan imam Nawawi dalam Al-Majmu’ bahwa perbedaan tersebut desebabkan penduduk Makkah melakukan thawaf, diantara dua tarawih satu thawaf dan tidak berthawaf sesudah taraweh yang kelima. Maka ahli Madina menghendaki persamaan pahala dengan mereka, kemudian mereka menjadikan sebagai ganti dari tiap thawaf empat rakaat. Jadi mereka menambah enam belas rakaat, sehingga menjadi 36 rakaat.[21]
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa perbedaan rakaat shalat tarawet tersebut tergantung dari panjang pendeknya ayat yang dibaca saat berdiri, apabila membaca surat dengan panjang maka sedikit rakatnya, dan apabila banyak sujudnya maka ayat yang dibaca adalah pendek.
Dalam perbedan ini marilah kita lihat apa yang difatwahkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, agar kita tidak selalu mempertentangkan suatu hal yang sebenarnya tidak penting. Ibnu Taimiyah mengatakan:
 “ Salat taraweh dibulan Ramadhan tidak ditetapkan jumlah rakaatnya. Rasulullah melakukan tidak tidak lebih dari tiga belas rakaat, tetapi masing masing rakaatnya beliau lakukan dalam waktu cukup lama. Kemudian setah Umar Ibn al-Khatab ra mengatur shalat tersebut dalam jamaah dan menyuruh ubai bin kaab mengiumaminya sebanyak 20 rakaat ditambah tiga rakaat witir, bacaan – bacaanya diperingan untuk mengimbangi jumlah rakatnya. Oleh orangn – orang yang makmum halitu dirasa lebih ringan dari pada memperpanjang tiap rakaat… Sekelompok kaum salaf melaksanakan shalat taraweh 40 rakaat ditambah tiga rakaat shalat witir. Kelompok lain lagi melaksanakannya 36 rakaat ditambah tiga witir. Semua itu mereka lakukan menurut pertimbangan mereka sendiri, mana yang dianggap lebih baik. Mana yang dianggap lebih afdhol tergantung pada pada orang yang mendirikan shalat taraweh itu sendiri. Jika mereka mempunyain kesanggupan shalat lama dan membatasi jumlah rakaat hanya delapan, kemudian ditambah dengan tiga rakaat witir, yaitu sebagai mana yang dilakukan Rasulullah saw. Itulah yang afdhol. Akan tetapi jika mereka tidak mempunyai kesanggupan shalat lama maka duapuluh rakaat (dengan meringankan bacaan ) itupun juga afdhal. Dan itulah yang dilakukan seagaian besar kaum muslimin. Jumlah 20 rakaat itu merupakan tengah – tengah antara 8 rakaat dengan 40 rakaat, kurang atau lebih itu boleh – boleh saja. Tidak ada alasan untuk mencelahnya. Bukan hanya satu Imam Madzab saja yang menetapkan demikian, yaitu Imam Ahmad bin Hambal, tetapi para imam Madzab yang lain pun demikian pula. Adalah sangat keliru orang yang mengatakan bahwa Rasulullah telah menetapkan jumlah rakaat shalat tarawih hingga tidak boleh ditambah dan dikurangi”.[22]

4.      Tata Cata pelaksanaan Shalat Tarawih

Shalat taraweh disunnahkan dilaksanakan dengan berjamaah, walaupun shalat dirumah disunnahkan untuk berjamaah dengan orang yang berada dirumah walaupun hanya satu orang. Ini adalah  hukum yang disepakati golongan syafiiyah dan Hanabilah. Menurut imam Malik dalam satu riwayatnya dan Abi Yusuf dan sebagian syafi’iyah mengatakan shalat tarawih dirumah itu lebih utama dengan umumnya hadits : أَفْضَل صَلَاة الْمَرْء فِي بَيْته إِلَّا الْمَكْتُوبَة Al –Thohawi berpendapat sesungguhnya shalat berjamaah dengan jamaah itu adalah fardhu kifayah.[23]
Kesimpulan
Shalat tarawih hukumnya adalah sunnah muakkad, pelaksanaannya disunnahkan dengan berjamaah.
Jumlah rakaatnya tidak ada ketentuan pasti dari Rasulullah maupun khulafaur rasyidin









Daftar Pustaka
Abul- Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi al-Naisaburi, S>>}ah}ih} Muslim,Juz 4. Al-Maktabah al-shamilah.
Abd al-Rahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ala al-Madzahi al-Arbaah juz 1, Bairut: Dar al-Fikr’
Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Yardizhab al-Bukhari, shahih al-Bukhari Al-Maktabah al-Samilah.
Esiklopedi Hukum Islam, Jakarta: PT.Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996.
H.M.H.Al-Hamid Al-Husaini, Pembahasan Tuntas Perihal Khilafah, Bandung: Pustaka Hidayah 2007.
Ibn Hajar al-Asyqolany, Fathu al-Bary juz 6 Al-Maktabah al-Syamilah.
Ibnu Hibban, Shahih Ibn Hibban Juz 10 Al-Maktabah al-Syamilah.
Imam Baihaqi, Al-Sunan al-Kubra juz 2, Maktabah al-Syamilah
Imam malik, Al-Muwatha’ Juz 1 AL-Maktabah al-Syamilah.
Imam Nawawi, Al-Majmu’ syarakh al-Muhadzab juz 5 Bairut: Dar Al-Fikr
Imam Nawawi, Sarah Muslim juz 3,Al- Maktabah al-shamilah.
Musanaf Ibn Abi Syaibah juz 2 al-Maktabah al-Syamilah
Muhammad bin Qudamah al-Maqdisiy, AL-Mughniy juz 3. Al-Maktabah al-Syamilah.
Sulaiman bin al-As’ats al-Sijistani, Sunan Abi Dawud Juz 12, AL-Maktanah al-Syamilah
Tuhfa al- Ahwadi juz 2, Al-Maktabah al-Syamilah.


[1] Abul- Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi al-Naisaburi, S>>}ah}ih} Muslim,Juz 4 ( Al-   Maktabah al-shamilah),145.


[2] Imam Nawawi, Sarah Muslim juz 3, (Al-   Maktabah al-shamilah),101.
[3] Esiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: PT.Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996),1600.
[4] Muslim, hahih Muslim juz 4, 143
[5] Abul- Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi al-Naisaburi, S>>}ah}ih} Muslim,Juz 4 ( Al-   Maktabah al-shamilah),145.

              
[6] Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Yardizhab al-bukhari, shahih al-Bukhari (Al-Maktabah al-Samilah), 138.
[7] Esiklopedi Hukum Islam,1600
[8] Abd al-Rahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ala al-Madzahi al-Arbaah juz 1 ( Bairut: Dar al-Fikr ), 294.
[9] Imam Nawawi juz 3, 102.
[10] Ibn Hajar al-Asyqolany, Fathu al-Bary juz 6 ( al-Maktabah al-Samilah),292.
[11]  Imam malik, Al-Muwatha’ Juz 1 ( AL-Maktabah al-Syamilah),342. Diriwayatkan juga oleh al-baihaqi dalam Sunanul Kubra juz 2, 496. Hadits ini dinilai mursal karena Yazid bin Rumman tidak sezaman dengan Umar.
[12] Musanaf Ibn Abi Syaibah juz 2 ( Maktabah al-Syamilah ),285.
[13] Ibid,286
[14] Imam Baihaqi, Al-Sunan al-Kubra juz 2, (Maktabah al-Syamilah),496. Hadits ini dinilai dhaif pada Abu Syaibah.
[15] Muhammad bin Qudamah al-Maqdisiy, AL-Mughniy juz 3. (Al-Maktabah al-Syamilah), 388.
[16]  Sulaiman bin al-As’ats al-Sijistani, Sunan Abi Dawud Juz 12, (AL-Maktanah al-Syamilah), 211.
[17] Imam Bukhari,juz 7, 178.
[18] Ibnu Hibban, Shahih Ibn Hibban Juz 10 (Al-Maktabah al-Syamilah),289.
[19] Imam Baihaqi,496.


[20] Tuhfa al- Ahwadi juz 2, (al-Maktabah al-Syamilah), 349.
[21] Imam Nawawi, Al-Majmu’ syarakh al-Muhadzab juz 5 (bairut: Dar Al-Fikr), 32-33.
[22] H.M.H.Al-Hamid Al-Husaini, Pembahasan Tuntas Perihal Khilafah, ( Bandung: Pustaka Hidayah 2007), 288.
[23] Ibn Hajar, 292.