MTs Banu Hasyim
Alamat : Pondok Pesantren Putri Jl.Brigjend Katamso no. 100 Janti Kec. Waru Kab. Sidoarjo E-mail: mts_banuhasyim@yahoo.com
Selasa, 25 Agustus 2015
Senin, 29 Juni 2015
Hasil Tes Kemampuan Dasar dan Pemetaan
| Berdasarkan hasil seleksi tanggal 28 Juni 2015 maka nama-nama
dibawah ini dinyatakan lulus seleksi. |
||||||
| Daftar | ulang mulai tanggal 30 Juni sampai 4 juli 2015 | |||||
| No | Nama peserta | No Peserta | Alamat | |||
| 1 | Adinda Wilda Rizkiyah | 036 | Tambak Bolak | |||
| 2 | Alfina Rahmah | 043 | Kepuh Kiriman | |||
| 3 | Athiyah Zakiyah | 038 | Tambak Rejo | |||
| 4 | Ayu Fitria Dewi | 003 | Simo Pomahan | |||
| 5 | Dewi Aprilia | 034 | Janti | |||
| 6 | Dewi Saudah | 010 | Gunung Anyar | |||
| 7 | Dina Auliyah | 030 | Sawohan | |||
| 8 | Elly Fatihah S | 025 | Ngingas | |||
| 9 | Faridatus Zakiyya | 027 | Sawohan | |||
| 10 | Fatimatuz Zahroh | 005 | Kundi Kepuh Kiriman | |||
| 11 | Fatin Najiah | 028 | Bagong Ginayan | |||
| 12 | Fifi Yentina | 006 | Sawohan | |||
| 13 | Fitri Aprilia | 018 | Tambak dalam | |||
| 14 | Fitria | 009 | Jl.Kali Bokor | |||
| 15 | Hafsah Nur Habibah | 035 | Jl.Wadung Asri | |||
| 16 | Indah Zakiyatun M | 021 | Wedoro Belahan | |||
| 17 | Inna Anzalna Ubudiyah | 012 | Tambak Sawah | |||
| 18 | Iva Nurdianah | 037 | Pranti | |||
| 19 | Kharisma | 014 | Bendul Merisih | |||
| 20 | Luluk Qomariyah | 042 | Bagong Ginayan | |||
| 21 | Lutfia Shinta Dewi | 022 | Brebek Waru | |||
| 22 | Maghfiroh warohmah | 031 | Upa Jiwa | |||
| 23 | Mutiatus Sholeha | 029 | Upa Jiwa | |||
| 24 | Nabila Nailovar | 007 | Wadung Asri | |||
| 25 | Nabilah | 024 | Ngingas selatan | |||
| 26 | Nadhirotul Munawaroh | 041 | Wadung Asri | |||
| 27 | Najubah Humayroh | 023 | Margorejo | |||
| 28 | Nanda Nabilah | 002 | Wedoro Candi | |||
| 29 | Nikin Diah Safitri | 020 | Sawohan | |||
| 30 | Ni'matul Rohmah A | 016 | Sawohan | |||
| 31 | Nola Windari | 017 | Sudimoro | |||
| 32 | Normala Rista Wike W | 004 | Mojokerto | |||
| 33 | Nur Afifatul Hidayah | 015 | Kendang Sari | |||
| 34 | Nur Fadilah | 040 | Tambak rejo | |||
| 35 | Putri Ayu Mareta | 019 | Tambak dalam | |||
| 36 | Putri Nihayatul Amaliyah | 033 | Letjen Suprapto | |||
| 37 | Putri Sinta | 026 | Lamongan | |||
| 38 | Serlina Maulita | 011 | Kepuh Kiriman | |||
| 39 | Sinta Nur Halizah | 001 | Mojokerto | |||
| 40 | Ulil Istianah | 008 | Wadung Asri | |||
| 41 | Wardah Nur laiyinah | 039 | Berbek Waru | |||
| 42 | Zuhrotul Luthfiah | 032 | Gunung Anyar | |||
| Sidoarjo,30 Juni 2015 | ||||||
| Kepala Madrasah | ||||||
| TTD | ||||||
| Latiful Asir, M.Pd.I | ||||||
Minggu, 21 Juni 2015
Shalat Tarawih
SHALAT TARAWIH
صلاة التراويح
A. MUQODIMAH
Rasulullah saw menganjurkan kepada
kita untuk menghidupkan malam Ramadhan dengan memperbanyak sholat. Bulan
Ramadlan merupakan bulan yang diagungkan, bulan yang penuh barakah, rahmah dan
maghfirah. Oleh karena itu Rasulullah SAW menganjurkan untuk memperbanyak amal
shalih, termasuk di antaranya adalah qiyamu Ramadlan, berdasarkan hadits:
عن أبي هريرة قال : كان رسول الله صلى
الله عليه وسلم يُرَغِّبُ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أنْ يَأمُرَهُمْ
فِيْهِ بَعَزِيْمَةٍ فَيَقوْلُ : مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيْمَانًا وَاحْتِسَابًا
غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (متفق عليه)
Artinya : ” Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW menganjurkan untuk qiyamu Ramadlan dengan tanpa memerintahkannya dengan penekanan (tidak mewajibkannya) seraya bersabda : Barang siapa beribadah pada bulan Ramadlan (melakukan qiyamu Ramadlan dengan (dilandasi) iman dan penuh keikhlasan makaakan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu ”[1]
Artinya : ” Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW menganjurkan untuk qiyamu Ramadlan dengan tanpa memerintahkannya dengan penekanan (tidak mewajibkannya) seraya bersabda : Barang siapa beribadah pada bulan Ramadlan (melakukan qiyamu Ramadlan dengan (dilandasi) iman dan penuh keikhlasan makaakan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu ”[1]
Dan fakta sejarah memberi bukti,
sejak zaman Rasulullah saw. hingga kini, umat Islam mengamalkan anjuran
Rasulullah ini. Tapi dalam pelaksanaannya terdapat perbedaan dibeberapa hal
yang kadang mengganggu ikatan ukhuwah di kalangan umat Islam. Seharusnya hal
tersebut tidak perlu terjadi jika umat
tahu sejarah disyariatkannya shalat tarawih.
Tidak ada perbedan pendapat atau
perselisihan dikalangan kaum muslimin mengenai kedudukan salat tarawih sebagai
ibadah sunnah. Yang menjadi permasalahan, dan titik perselisihan pendapat
adalah: apakah salat tarawih itu dilaksanakan dengan 20 rakaat selain shalat
witir, atau 8 rakaat selain witir. Perbedaaan mengenai jumlah rakaat shalat
tarawih itu sebenarnya wajar, karena adanya beberapa riwayat shahih mengenai
hal tersebut yang berlainan. Namun kenyataan dimasyarakat menunjukkan hingga
sekarang – terutama tiap bulan Ramadhan – masih terdengarnya suara-suara
sumbang yang membid’akan dan menyesat - nyesatkan kaum muslimin yang
melaksanakan shalat tarawih dengan jumlah rakaat lebih dari delapan rakaat.
Dari kenyataan tersebut penulis
ingin menelusuri pendapat – pendapat para ulama’ dan dalil-dalil yang
mendasarinya. Dalam makalah yang sedehana ini penulis akan membahas kenapa
dinamakan shalat taraweh, hukum shalat tarawih, jumlah rakaatnya, dan tata cara
pelaksanaannya.
B. PEMBAHASAN
1. Mengapa
dinamakan shalat taraweh ?
التراويح jama’ ترويحة berasal dari akar kata راحة : رواح = ترويحة للنفس : إستراحة artinya istirahat. Shalat malam pada
bulan Ramadhan dinamakan dengan التراويح karena ketika
melaksanakan shalat ini para jamaah dan imamnya beristirahat setelah melaksanakan
dua kali salam atau empat rakaat.
Disebut
dengan nama “shalat tarawih” karena
shalat itu memakan waktu lama dan terdiri dari beberapa rakaat. Yang pada
umumnya setelah orang menyelesaikan empat rakaat mereka beristirahat sejenak,
kemudian melanjutkan dengan empat rakaat berikutnya. Sebab itulah orang
menyebutnya dengan nama “ shalat tarawih” yang berarti shalat dengan beberapa kali
istirahat. Menurut imam al-Nawawi yang
dimaksud shalat tarawih adalah “qiyamu Romadhon”[2]
dan menurut Imam Malik istilah itu baru muncul dizaman pemerintahan Umar bin
al-Khattab (428H/581M – 23 H/644 M)[3]
2. Hukum
Shalat Tarawih dan Fadhilahnya
Pada masa Rasulullah istilah shalat tarawih belum dikenal, qiyamul lail
atau qiyam al-Ramadhan adalah istilah yang dipakai pada masa itu. Semula qiyamu
al-Ramadhan dilaksanakan Rasulullah di masjid, ketika jamaah melihat Rasulullah
melaksanakan shalat, merekapun kemudian mengikutinya. Sebagaimana hadits yang
diriwayatkan Aisyah rda:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ
يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَأَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ
فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ
اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ
الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ
أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ قَالَ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ
Artinya : …..“ Dari ‘Aisyah RA,
sesungguhnya Rasulullah SAW shalat di masjid pada suatu malam, lalu orang-orang
shalat bersama beliau. Kemudian pada malam berikutnya, beliau shalat dan
bertambah banyak orang (yang mengikuti beliau). Pada malam ketiga atau keempat,
orang-orang berkumpul (menunggu beliau), namun Rasulullah SAW tidak keluar (ke
masjid). Ketika pagi-pagi beliau bersabda : sungguh aku melihat apa yang kalian
lakukan (tadi malam). Tidak ada yang mencegah saya keluar kecuali saya hawatir
kalau shalat itu difardlukan pada kalian. ’Aisyah berkata bahwa itu terjadi pada bulan ramadhan” [4]
Rasulullah
juga menganjurkan untuk mendirikan qiyamul lail sebagai mana hadits riwayat
imam muslim dari Abu Hurairah:
عن أبي هريرة قال : كان رسول الله صلى
الله عليه وسلم يُرَغِّبُ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أنْ يَأمُرَهُمْ
فِيْهِ بَعَزِيْمَةٍ فَيَقوْلُ : مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيْمَانًا وَاحْتِسَابًا
غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (متفق عليه)
Artinya : ” Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW menganjurkan untuk qiyamu Ramadlan dengan tanpa memerintahkannya dengan penekanan (tidak mewajibkannya) seraya bersabda : Barang siapa beribadah pada bulan Ramadlan (melakukan qiyamu Ramadlan dengan (dilandasi) iman dan penuh keikhlasan maka akan diampuni dosa daosanya yang telah lalu.”[5]
Artinya : ” Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW menganjurkan untuk qiyamu Ramadlan dengan tanpa memerintahkannya dengan penekanan (tidak mewajibkannya) seraya bersabda : Barang siapa beribadah pada bulan Ramadlan (melakukan qiyamu Ramadlan dengan (dilandasi) iman dan penuh keikhlasan maka akan diampuni dosa daosanya yang telah lalu.”[5]
Dari
dua riwayat hadits shahih diatas dapat diketahui bahwa qiyamu ramadhan adalah
sunnah, karna nabi telah menganjurkan dan melaksanakannya. bahkan dalam hadits
Abu Hurairah yang diriwayatkan imam Malik dalam muwatho’nya dan imam Muslim
dalam shahihnya ada tambahan :
فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ
عَلَى ذَلِكَ ثُمَّ كَانَ الْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ فِي خِلَافَةِ أَبِي بَكْرٍ وَصَدْرًا
مِنْ خِلَافَةِ عُمَرَ عَلَى ذَلِكَ.
” Kemudian Rasulullah SAW wafat, dan keadaan tetap seperti
itu sampai masa khalifah Abu Bakar dan khalifah Umar”.
Kemudian pada masa khalifah Umar
shalat taraweh dilaksanakan dengan berjamaah pada satu imam atas inisiatif
kahalih Umar. Sebagai mana hadits yang diriwayatkan imam Bukhari dari Abu
Hurairah :
وَعَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ
الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا
النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ
فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ
عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ
كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ
قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ
الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ
Artinya
:
Dari
Ibn Syihab dari Urwah bin Zubair dari Abdurrahman bin Abd al-Qari sesungguhnya
dia berkata: saya keluar bersama khalifahUmar bin al-Khattab ra pada suatu malam bulan Ramadhan ke masjid
(Madinah) didapati didalam masjid orang–orang terpencar–pencar, ada orang yang
shalat sendiri-sendiri, dan ada yang mengimami sekelompok jamaah. Maka khalifah
Umar berkata: aku berpendapat, kalau mereka itu dikumpulkan dalam satu jamaah
dan diimami oleh seorang imam, maka Umar mengumpulkan mereka dalam satu jamaah
yang diimami Ubaiy bin Ka’ab. Kemudian saya keluar lagi bersama khalifah Umar
pada malam berikutnya, kami melihat manusia shalat diimami seorang imam.saat
itu khalifah Umar berkata: inilah sebaik baik bid’ah. Orang yang tidur lebih
dahulu itu lebih baik dari orang – orang yang shalat saat ini.[6]
Menurut
para fuqaha qiyam al-Ramahdan atau qiyam al-Lail bagi Rasulullah hukumnya
wajib, akan tetapi menurut jumhur ulama fiqih salat tarawih bagi umat islam
hukumnya sunnah mu’akkad (sunnah yang dianjurkan)[7].
Imam Abu Hanifah ketika ditanya tentang apa yang dilakukan khalifah Umar dia
menjawab “Taraweh itu sunnah yang dikokohkan”[8]
Imam Nawawi dalam sarah Muslim menjelaskan bahwa hadits Nabi من قام رمضان itu adalah sighot yang menghendaki الترغيب والندب (yang disukai
dan dianjurkan) bukan wajib. Dan umat islam sepakat bahwa sesungguhnya qiyam
al-Romadhon itu bukan wajib tetapi sunnah.[9]
Ibnu Quddamah dalam al-Mughny, shalat tarawih adalah sunnah muakkad dan orang
yang mensunnahkan pertama adalah Rasulullah Saw sebagai mana hadits Abu
Hurairah di atas. Al-Thahawy sebagai mana dinukil ibn Hajar al-Asqalany dalam
syarah bukhari mengatakan: sesungguhnya shalat tarawih dengan berjamaah adalah
fardhu kifaya. Dan berkata Ibn Bathal, qiyamu Ramadhan adalah sunnah karena
Umar tentunya mencontoh perbuatan Nabi Saw.[10]
3. Jumlah
Rakaat Shalat Taraweh
Ada
perbedaan pendapat tentang jumlah rakaat shalat taraweh, jumhur ulama sepakat
bahwa shalat taraweh dilaksanakan dengan 20 rakaat, sedang sebagian ulama
berpendapat bahwa shalat tareweh dilaksanakan 8 rakaat, bahkan ada yang
mengatakan 36 rakaat. Perbedaan tersebut dilatar belakangi oleh adanya perbedaan
dalil ( Hadits) yang mereka jadikan hujjah masing-masing.
Pendapat Pertama
Imam madhab sepakat bahwa shalat
taraweh itu dilaksanakan dengan 20 rakaat. Hal itu didasarkan pada dalil-dalil riwayat shahih
sebagai berikut:
a. Hadits
riwayat imam Malik
حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ أَنَّهُ قَالَ كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ
فِي زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ
رَكْعَةً
“ Dari Malik dari Yazid bin Ruman, ia berkata: adalah manusia
mendirikan shalat pada masa khalifah Umar sebanyak 23 rakaat.[11]
b. Hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah dari Hasan Abdul Aziz bin Rafi’
حدثنا حميد بن عبد الرحمن عن حسن عبد
العزيز بن رفيع قال كان أبي بن كعب يصلي
بالناس في رمضان بالمدينة عشرين ركعة ويوتر بثلاث.
Bercerita kepada kami Hamid bin Abd al-Rahman
dari Hasan Abd Al-Aziz bin Rafi’, ia berkata: Ubaiy bin Ka’ab shalat bersama manusia
dalam bulan Ramadhan di Madinah 20 Rakaat dan witir 3 rakaat.[12]
c. Hadits
dari ibn Abbas yang diriwayatkan Ibn Abi Syaibah dan imam Baihaqi
حدثنا يزيد بن هارون قال انا ابراهيم
بن عثمان عن الحكم عن مقسم عن ابن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يصلي في
رمضان عشرين ركعة والوتر.
Dari Ibnu Abbas sesungguhnya
Rasulullah Saw shalat dalam bulan Ramadhan 20 rakaat dan witir.[13]
ثنا أبو احمد بن عدى الحافظ ثنا عبد الله
بن محمد بن عبد العزيز ثنا منصور بن ابى مزاحم ثنا ابو شيبة عن الحكم عن مقسم عن ابن
عباس قال كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلى في شهر رمضان في غير جماعة بعشرين ركعة
والوتر
Dari Ibnu Abbas
sesungguhnya Rasulullah Saw shalat dalam bulan Ramadhan tanpa berjamaah 20
rakaat dan witir.[14]
Ibn
Quddamah mengatakan Imam Ahmad bin Hambal lebih suka memilih shalat taraweh 20
rakaat. Demikian juga Sufyan Al-Tsauriy, Imam Abu Hanifah, dan Imam Syafi’i. lebih
lanjut beliyau berkata: kami lebih membenarkan riwayat yang mengatakan bahwa
khalifah umar memerintahkan Ubaiy bin Ka’ab supaya mengimami shalat taraweh 20 rakaat.[15]
Nampak dalam keterangan keterangan
di atas bahwa sahabat – sahabat Nabi banyak yang mendirikan shalat taraweh pada
masa Umar sebanyak 20 rakaat. Nabi juga berpesan kepada umatnya agara mengikuti
sunnah – sunnahnya dan sunnah khalifah-khalifah al-Rasyidin yang diberi
hidayah. Sebagai mana sabdanya:
فَعَلَيْكُمْ
بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا
بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ.
Maka
wajib atasmu mengikuti sunnahku dan sunnah al-khulafai al-rasyidin yang
memperoleh petunjuk. Gigitlah oleh kalian sunnah tersebut dengan gigi graham.[16]
Disamping
dalil-dalil diatas pelaksanaan shalat tarawih dengan 20 rakaat juga diperkuat
dengan riwayat bil fi’li yang dilakukan oleh para sahabat,
tabiin, dan tabiit tabiin sampai zaman kita sekarang ini. Dan itu tidak ada
penentangan dari shahabat, yang pada masa Umar bin Khatab para sahabat masih
banyak. Sedangkan sayidah Aisyah yang meriwayatkan hadits bahwa Nabi melakukan
qiyam al-lail baik didalam bulan Ramadhan ataupaun tidak sama saja yaitu 8
rakaat. Juga tidak mengadakan penolakan atau memberikan komentar.
Pendapat
Kedua
Pendapat
yang mengatakan bahwa shalat taraweh itu dilaksanakan dengan 8 rakaat. Pendapat
ini berdarkan hadits:
a.
Hadits riwayat Aisyah:
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَاكَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي
رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا
فَلَا تَسَلْ عَنْ
حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي
أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ
تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي
Artinya : “Dari Abi Salamah bin Abdur Rahman, bahwasanya ia
bertanya kepada Aisyah: Bagaimana Shalat Rasulullah SAW di bulan Ramadlan ? Aisyah
menjawab: Rasulullah SAW tidak menambah dari sebelas rakaat baik di bulan
Ramadlan maupun di bulan lainnya. Beliau shalat empat rakaat, maka jangan tanya
tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat lagi empat rakaat juga
jangan tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat.
Aisyah berkata: saya bertanya, apakah engkau tidur sebelum witir ? Rasulullah
bersabda : ya Aisyah sesungguhnya kedua mata saya tidur tetapi hati saya tidak
tidur.[17]
b. Hadits riwayat Jabir bin Abdullah
عن جابر بن عبد الله ، قال : صلى بنا رسول الله صلى الله عليه
وسلم في شهر رمضان ثمان ركعات وأوتر….
Dari Jabir bin Abdullah ia berkata: kami
shalat bersama Nabi didalam bulan Ramadhan delapan rakaat dan witir …[18]
c. Hadits riwayat al-Saib bin Yazid
عن السائب بن يزيد انه قال امر عمر بن الخطاب رضى الله عنه ابى
بن كعب وتميم الدارى ان يقوما للناس باحدي عشرة ركعة وكان القارى يقرأ بالمئين
Dari al-Saib bin Yazid sesungguhnya
ia berkata: Umar bin al-Khathob ra menyuruh Ubaiy bin Kaab dan Tamim al-Dariy supaya
keduanya mengimami untuk manusia dengan 11 rakaat..[19]
Al-Hafid Jalaluddin al-Suyuti
didalam risalahnya Al-Mashabiha fi Shalah al-Tarawihi menukil : “ berkata
al-Jauzi min Malik sesungguhnya imam malik berkata: saya lebih suka dengan apa yang dilakukan Umar untuk berjamaah dengan
sebelas rakaat karna itu adalah shalat Rasulullah. Al-jauzi mengatakan pendapat
yang rajih, muhtar, serta lebih kuat dari segi dalil adalah pendapat yang dipilih
imam Malik untuk dirinya sendiri yaitu 11 rakaat, itu adalah ketepan dari Rasulullah
melalui sanad yang sahih. Adapaun pendapat yang lain tidak dijumpai sanad
shahih yang tanpa adanya komentar dan menjelaskan bahwa itu dari Rasulullah dan
tidak seorang dari khulafaur rasyidin yang memerintahkan. Kami katakan bahwa 11
rakaat adalah ketetapan dari Rasulullah sebagaimana hadits riwayat Bukhari,
Muslim, dan lainnya dari hadits Abi Salma bin Abd al-Rahman yang menanyakan
kepada Aisyah bagaimana shalat Nabi.[20]
Pendapat
ketiga
Berbagai pendapat tentang jumlah
rakaat shalat taraweh yang lebih dari 20 rakaat.
عَنْ مُحَمَّدِ اِبْنِ سِيرِينَ أَنَّ مُعَاذًا
أَبَا حَلِيمَةَ الْقَارِي كَانَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ فِي رَمَضَانَ إِحْدَى
وَأَرْبَعِينَ رَكْعَةً
a. Dari Muhammad bin Sirin,
sesungguhnya Muad aba Halimah al-Qori shalat bersama manusia didalam bulan
romadhon 41 Rakaat
سَمِعْت عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يُحَدِّثُ عَنْ
نَافِعٍ قَالَ : لَمْ أُدْرِكْ النَّاسَ إِلَّا وَهُمْ يُصَلُّونَ تِسْعًا وَثَلَاثِينَ
رَكْعَةً وَيُوتِرُونَ مِنْهَا بِثَلَاثٍ
Saya mendengar Abdullah bin
Umar menceritakan dari Nafi’, ia berkata saya tidak mendapati manusia kecuali
mereka shalat 39 rakaat dan berwitir darinya 3 rakaat.
Dari berbagai khabar tentang
jumlah rakaat shalat taraweh diatas, menunjukkan tentang tidak adanya ketentuan
pasti dari Rasulullah berapa jumlah rakaat sahalat taraweh tersebut. Maka imam
Malik dan imam Syafi’i mengatakan bahwa perbedaan pendapat ini tidak
bermanfaat, karena dalam persolan yang sunnah ajaran Islam memberikan jalan
yang lapang. Hal ini dapat dilahat dari perbedaan pelaksanaan taraweh antara
penduduk Makkah yang 20 rakaat dan penduduk Madinah yang melaksanakan dengan 36
rakaat. Hal ini sebagai mana dijelaskan imam Nawawi dalam Al-Majmu’ bahwa
perbedaan tersebut desebabkan penduduk Makkah melakukan thawaf, diantara dua
tarawih satu thawaf dan tidak berthawaf sesudah taraweh yang kelima. Maka ahli
Madina menghendaki persamaan pahala dengan mereka, kemudian mereka menjadikan sebagai
ganti dari tiap thawaf empat rakaat. Jadi mereka menambah enam belas rakaat,
sehingga menjadi 36 rakaat.[21]
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa
perbedaan rakaat shalat tarawet tersebut tergantung dari panjang pendeknya ayat
yang dibaca saat berdiri, apabila membaca surat dengan panjang maka sedikit
rakatnya, dan apabila banyak sujudnya maka ayat yang dibaca adalah pendek.
Dalam perbedan ini marilah
kita lihat apa yang difatwahkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, agar kita
tidak selalu mempertentangkan suatu hal yang sebenarnya tidak penting. Ibnu
Taimiyah mengatakan:
“ Salat taraweh dibulan Ramadhan tidak
ditetapkan jumlah rakaatnya. Rasulullah melakukan tidak tidak lebih dari tiga
belas rakaat, tetapi masing masing rakaatnya beliau lakukan dalam waktu cukup
lama. Kemudian setah Umar Ibn al-Khatab ra mengatur shalat tersebut dalam
jamaah dan menyuruh ubai bin kaab mengiumaminya sebanyak 20 rakaat ditambah
tiga rakaat witir, bacaan – bacaanya diperingan untuk mengimbangi jumlah
rakatnya. Oleh orangn – orang yang makmum halitu dirasa lebih ringan dari pada
memperpanjang tiap rakaat… Sekelompok kaum salaf melaksanakan shalat taraweh 40
rakaat ditambah tiga rakaat shalat witir. Kelompok lain lagi melaksanakannya 36
rakaat ditambah tiga witir. Semua itu mereka lakukan menurut pertimbangan mereka
sendiri, mana yang dianggap lebih baik. Mana yang dianggap lebih afdhol
tergantung pada pada orang yang mendirikan shalat taraweh itu sendiri. Jika
mereka mempunyain kesanggupan shalat lama dan membatasi jumlah rakaat hanya
delapan, kemudian ditambah dengan tiga rakaat witir, yaitu sebagai mana yang
dilakukan Rasulullah saw. Itulah yang afdhol. Akan tetapi jika mereka tidak
mempunyai kesanggupan shalat lama maka duapuluh rakaat (dengan meringankan
bacaan ) itupun juga afdhal. Dan itulah yang dilakukan seagaian besar kaum
muslimin. Jumlah 20 rakaat itu merupakan tengah – tengah antara 8 rakaat dengan
40 rakaat, kurang atau lebih itu boleh – boleh saja. Tidak ada alasan untuk
mencelahnya. Bukan hanya satu Imam Madzab saja yang menetapkan demikian, yaitu
Imam Ahmad bin Hambal, tetapi para imam Madzab yang lain pun demikian pula. Adalah
sangat keliru orang yang mengatakan bahwa Rasulullah telah menetapkan jumlah
rakaat shalat tarawih hingga tidak boleh ditambah dan dikurangi”.[22]
4. Tata
Cata pelaksanaan Shalat Tarawih
Shalat taraweh disunnahkan
dilaksanakan dengan berjamaah, walaupun shalat dirumah disunnahkan untuk berjamaah
dengan orang yang berada dirumah walaupun hanya satu orang. Ini adalah hukum yang disepakati golongan syafiiyah dan Hanabilah.
Menurut imam Malik dalam satu riwayatnya dan Abi Yusuf dan sebagian syafi’iyah
mengatakan shalat tarawih dirumah itu lebih utama dengan umumnya hadits : أَفْضَل صَلَاة الْمَرْء
فِي بَيْته إِلَّا الْمَكْتُوبَة Al –Thohawi berpendapat sesungguhnya shalat berjamaah dengan
jamaah itu adalah fardhu kifayah.[23]
Kesimpulan
Shalat
tarawih hukumnya adalah sunnah muakkad, pelaksanaannya disunnahkan dengan
berjamaah.
Jumlah
rakaatnya tidak ada ketentuan pasti dari Rasulullah maupun khulafaur rasyidin
Daftar
Pustaka
Abul-
Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi al-Naisaburi,
S>>}ah}ih} Muslim,Juz 4. Al-Maktabah al-shamilah.
Abd al-Rahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ala
al-Madzahi al-Arbaah juz 1, Bairut: Dar al-Fikr’
Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin
Ibrahim bin Mughirah bin Yardizhab al-Bukhari, shahih al-Bukhari Al-Maktabah
al-Samilah.
Esiklopedi Hukum Islam, Jakarta:
PT.Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996.
H.M.H.Al-Hamid Al-Husaini, Pembahasan
Tuntas Perihal Khilafah, Bandung: Pustaka Hidayah 2007.
Ibn
Hajar al-Asyqolany, Fathu al-Bary juz 6 Al-Maktabah al-Syamilah.
Ibnu Hibban, Shahih Ibn Hibban Juz 10
Al-Maktabah al-Syamilah.
Imam Baihaqi, Al-Sunan al-Kubra juz 2, Maktabah
al-Syamilah
Imam malik, Al-Muwatha’ Juz 1 AL-Maktabah
al-Syamilah.
Imam Nawawi, Al-Majmu’ syarakh al-Muhadzab
juz 5 Bairut: Dar Al-Fikr
Imam Nawawi, Sarah Muslim juz 3,Al-
Maktabah al-shamilah.
Musanaf Ibn Abi Syaibah
juz 2 al-Maktabah al-Syamilah
Muhammad bin Qudamah al-Maqdisiy,
AL-Mughniy juz 3. Al-Maktabah al-Syamilah.
Sulaiman bin al-As’ats
al-Sijistani, Sunan Abi Dawud Juz 12, AL-Maktanah al-Syamilah
Tuhfa
al- Ahwadi juz 2, Al-Maktabah al-Syamilah.
[1] Abul- Husain Muslim
bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi al-Naisaburi, S>>}ah}ih} Muslim,Juz
4 ( Al- Maktabah al-shamilah),145.
[3] Esiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: PT.Ichtiar Baru Van Hoeve,
1996),1600.
[4] Muslim, hahih Muslim
juz 4, 143
[5] Abul- Husain Muslim bin al-Hajjaj bin
Muslim al-Qusyairi al-Naisaburi, S>>}ah}ih} Muslim,Juz 4 ( Al- Maktabah al-shamilah),145.
[6] Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin
Yardizhab al-bukhari, shahih al-Bukhari (Al-Maktabah al-Samilah), 138.
[8] Abd al-Rahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh
ala al-Madzahi al-Arbaah juz 1 ( Bairut: Dar al-Fikr ), 294.
[10] Ibn Hajar al-Asyqolany, Fathu al-Bary juz 6 ( al-Maktabah al-Samilah),292.
[11] Imam malik, Al-Muwatha’ Juz
1 ( AL-Maktabah al-Syamilah),342. Diriwayatkan juga oleh al-baihaqi dalam
Sunanul Kubra juz 2, 496. Hadits ini dinilai mursal karena Yazid bin Rumman
tidak sezaman dengan Umar.
[12] Musanaf Ibn Abi Syaibah juz 2 ( Maktabah al-Syamilah ),285.
[13] Ibid,286
[14] Imam Baihaqi, Al-Sunan al-Kubra juz 2, (Maktabah al-Syamilah),496.
Hadits ini dinilai dhaif pada Abu Syaibah.
[15] Muhammad bin Qudamah al-Maqdisiy, AL-Mughniy juz 3. (Al-Maktabah
al-Syamilah), 388.
[16] Sulaiman bin al-As’ats
al-Sijistani, Sunan Abi Dawud Juz 12, (AL-Maktanah al-Syamilah), 211.
[17] Imam Bukhari,juz 7, 178.
[18] Ibnu Hibban, Shahih Ibn Hibban Juz 10 (Al-Maktabah
al-Syamilah),289.
[20] Tuhfa al- Ahwadi juz 2, (al-Maktabah al-Syamilah), 349.
[21] Imam Nawawi, Al-Majmu’ syarakh al-Muhadzab juz 5 (bairut: Dar
Al-Fikr), 32-33.
[22] H.M.H.Al-Hamid Al-Husaini, Pembahasan Tuntas Perihal Khilafah, (
Bandung: Pustaka Hidayah 2007), 288.
[23] Ibn Hajar, 292.
Langganan:
Postingan (Atom)

